Resolusi dan solusi

Kejutan-kejutan itu akan tetap seperti itu, karena dengan begitu aku akan merasa lebih hidup, lebih (tampak) manusia.

Jauh kebelakang, 12 bulan yang lalu, sebuah resolusi. Saya sengaja membeli sebuah buku catatan khusus, dan menganggapnya istimewa kala itu, dan tentunya masih terbakar semangat

Dan wow, resolusiku terlihat begitu membanggakan, bayang-bayang bila resolusi itu tercapai begitu indah yang mungkin akan mengatasi segala kebuntuanku setahun belakangan.

Dan saat ini, kurang lebih seminggu lagi berganti tahun, dengan perasaan kecewa, muak … muak kepada diri sendiri tepatnya.

Resolusi yang dulu saya banggakan itu tak lagi terlihat indah, lebih mirip sampah. Entah apa yang membujukku untuk menulis sampah seperti ini, entah blog apa lagi yang saya baca kala itu, yang jelas, aku sedikit mengutuknya, maaf.

Resolusi yang menghabiskan setangah buku catatan itu terlihat melecehkanku. Aku mesti menuntut diriku sendiri karena telah melakukan pelececahan ini.

Tak ada dari catatan itu yang benar-benar selesai. Mungkin akan lebih melegakan bila saya tak menyentuhnya sama sekali, setidaknya saya bisa berdalih karena tidak sempat, terlalu sibuk atau apapun yang mengkambing hitamkan waktu, namun faktanya hampir kesemuanya itu pernah saya mulai. Hanya memulai.

Dan, itu menyakitkan.

Melihat kegagalan sendiri selalu menyakitkan, lebih sakit dari sakit gigi apalagi sakit hati. Sial ! (Salah satu resolusiku, mengurangi mengumpat !)

Dan sekarang, bulan yang sama saat menulis mansukrip sampah itu, tidak ada lagi resolusi untuk tahun depan.

Resolusi bagiku bukanlah solusi

Tidak ada lagi euforia bergantinya tahun, toh sudah sejak lama aku merasa aneh dengan perayaan tahun baru ini.

Hanya saja saat itu persoalan resolusi ini terlalu menggangguku, sebagian besar diriku menganggap aku mungkin akan merasa keren jika menulisnya. Tapi sekarang, terlepas apa sebenarnya resolusi itu atau asal muasalnya. Tidak ada lagi resolusi tahun ini.

Bukan karena aku tak ingin melihat diriku yang terlecehkan, atau karena tak ingin memercayai bahwa aku sebenarnya pecundang, sama sekali tidak.

Aku hanya ingin menjalani tahun ini seperti dengan hari-hari sebelumnya, tanpa ada perasaan di kejar sesuatu, aku menganggap pergantian tahun tak ubahnya pergantian hari. Setiap hari selalu menawarkan kejutan yang tak ingin aku rusak karena harus mengerjakan tumpukan to-do.

Kejutan-kejutan itu akan tetap seperti itu, karena dengan begitu aku akan merasa lebih hidup, lebih (tampak) manusia.

Tinggalkan Balasan