dan bila

Berapa lama aku tak menikmati malam dalam mimpi? Aku tak tahu.

Terlalu lama aku rasa. Aku sedang menyakiti diri dengan segala yang aku mampu.

Bila saatnya tiba, ketika … oh … aku harap bukan karena terlalu lelah, tapi karena aku ingin menyudahi kebodohan yang sedari awal aku tahu.

dan bila aku tak juga sadar akan sesuatu yang terlampau jelas, bahkan seorang gila tahu. Maka terkutuklah aku.

dan bila seorang terkasih bersuka cita mengulurkan seutas kasihnya pada diri bermuka masam ini. Sungguh hina bila menepisnya

dan bila seorang kawan sudi melipur lara jiwa nelangsa ini maka dia adalah saudara sehidupku.

dan bila ‘bila’ telah menguap bersama semua andaian-andaian yang merantai kedua kaki dan tanganku. Oh … sungguh itu adalah inginku yang terbesar.

bahkan bersama harapan – harapan yang dipenuhi beribu warna yang tak pernah terjangkau mata, irama – irama yang memanjakan hati, hamparan bebungaan yang sedap baunya. Sungguh tiada yang mampu, kecuali yang menghendaki hati ini.

(2016)

Tinggalkan jejak